‎AS vs China: Mengukur Kekuatan Militer Dua Raksasa di Tengah Ketegangan Global.

Metronewsdindonesia.com Rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China tidak lagi terbatas pada perang dagang dan teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan itu semakin nyata di sektor militer, ditandai dengan meningkatnya latihan perang, manuver aliansi, dan demonstrasi kekuatan di berbagai kawasan strategis dunia.

‎Ketegangan terbaru terlihat pada pertengahan Maret 2025, ketika Angkatan Laut China menggelar latihan perang bersama Rusia dan Iran di lepas pantai Iran. Latihan ini dipandang sebagai sinyal perlawanan terhadap dominasi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.

‎Tak lama berselang, AS bersama Israel merespons dengan latihan udara gabungan di kawasan Mediterania Timur. Latihan tersebut melibatkan jet tempur siluman F-35 dan pesawat pengebom strategis jarak jauh B-52, memperlihatkan kesiapan AS dalam menghadapi potensi konflik berskala besar.

‎Lalu, jika kekuatan militer kedua negara dibandingkan secara menyeluruh, siapa yang sebenarnya lebih unggul?

‎Skor Global Firepower 2025: Persaingan Sangat Ketat

‎Berdasarkan laporan Global Firepower (GFP) 2025, Amerika Serikat masih menempati posisi pertama sebagai militer terkuat di dunia dengan skor Power Index 0,0744. Namun, China terus menempel ketat di peringkat ketiga dengan skor 0,0788. Dalam sistem GFP, semakin kecil skor, semakin kuat kekuatan militer suatu negara.

‎Menariknya, laporan ini menunjukkan keseimbangan kekuatan yang relatif unik. Dari delapan indikator utama yang dianalisis, AS dan China masing-masing unggul di empat kategori berbeda.

‎Keunggulan Militer China: Dominasi Darat dan Jumlah Personel

‎China menunjukkan keunggulan signifikan dalam kekuatan darat dan sumber daya manusia:

‎• Sumber Daya Manusia
‎China memiliki lebih dari 2 juta personel militer aktif, jauh melampaui AS yang berjumlah kurang dari 1,4 juta personel.
‎• Kekuatan Darat
‎Dalam jumlah tank tempur, China unggul sekitar 2.160 unit dibandingkan AS.
‎• Artileri Roket
‎China mendominasi sektor mobile rocket projectors dengan 2.750 unit, sementara AS hanya memiliki 641 unit.
‎• Armada Laut & Finansial
‎Secara jumlah kapal, China kini memiliki armada laut terbesar di dunia, didukung pertumbuhan anggaran militer dan kekuatan industri pertahanan domestik yang terus meningkat.

‎Keunggulan Militer AS: Supremasi Udara dan Teknologi Tinggi

‎Meski kalah dari sisi kuantitas, Amerika Serikat tetap unggul dalam kualitas, teknologi, dan daya jangkau global:

‎• Supremasi Udara
‎AS masih menjadi kekuatan udara paling dominan, dengan armada pesawat tempur, pengebom strategis, dan teknologi penerbangan paling maju di dunia.

‎• Kekuatan Laut Strategis
‎AS unggul dalam kapal perang bernilai strategis. Tercatat, AS memiliki 31 kapal perusak (destroyer) lebih banyak serta 9 kapal selam lebih banyak dibandingkan China.
‎• Logistik Global
‎Jaringan pangkalan militer dan sistem logistik AS tersebar di berbagai belahan dunia, memberi keunggulan besar dalam proyeksi kekuatan lintas kawasan.

‎• Sumber Daya Alam dan Energi
‎Ketahanan energi dan akses sumber daya strategis menjadi faktor penting yang menopang posisi AS sebagai kekuatan militer nomor satu dunia.

‎Manuver Global dan Arah Persaingan

‎Persaingan ini diperkirakan akan terus meningkat seiring kebijakan luar negeri yang semakin agresif dari masing-masing kubu. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, disebut mulai menyiapkan langkah-langkah militer untuk mengamankan jalur perdagangan strategis global, termasuk perhatian terhadap kawasan Terusan Panama.

‎Di sisi lain, poros China–Rusia–Iran diprediksi akan semakin intens melakukan latihan militer bersama sebagai penyeimbang terhadap kehadiran militer AS di wilayah-wilayah krusial dunia.

‎Dalam lanskap geopolitik saat ini, persaingan AS dan China bukan sekadar soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling siap menghadapi konflik modern—perang yang tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi juga teknologi, aliansi, dan kendali wilayah strategis.

‎Sumber: CNBC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *