Dulu Di Hina,Sekarang Ibu Ini Balas Yang Telah Menghinanya.

Metronewsindonesia.com 09/03/2026 Balas dendam terbaik kadang bukan dengan amarah, melainkan dengan kebaikan yang sanggup menampar nurani banyak orang.

Inilah kisah nyata perjuangan Juhaini, seorang perantau asal Sumedang yang benar-benar merasakan kejamnya aspal ibu kota Jakarta. Selama dua tahun pertamanya merantau, dia dan suaminya harus bertahan hidup murni sebagai pemulung. Tidur beralaskan jalanan berdebu, mengais botol dari tumpukan sampah, hingga harus kebal menelan cemoohan dan hinaan dari orang-orang yang jijik melihatnya.

Tapi roda kehidupan berputar, dan mental bajanya tidak bisa dihancurkan. Mantan pemulung yang dulu sering dihina ini akhirnya berhasil bangkit dan kini membuka sebuah warung nasi sederhana di kawasan Cideng, Jakarta Pusat.

Namun, ada satu hal gila dari warung makan ini. Di saat harga bahan pokok terus mencekik dan pedagang lain berlomba menaikkan harga, Juhaini justru menolak keras!

Bayangkan saja, seporsi nasi dengan dua sampai tiga macam lauk dia jual hanya sepuluh ribu sampai dua belas ribu rupiah. Kopi seduh yang modalnya terus naik pun dia lepas di harga tiga ribu rupiah saja, padahal keuntungannya super tipis cuma lima ratus perak per gelas.

Kenapa dia rela berbisnis seolah ingin rugi? Alasannya dijamin bikin kamu terenyuh.

Hampir seluruh pelanggan warung Juhaini adalah para pemulung. Dia tahu persis rasanya kelaparan di jalanan dan betapa susahnya mencari uang receh demi sesuap nasi. Juhaini mengaku tidak tega mematok harga mahal karena takut teman-teman pemulungnya tidak sanggup membeli makan lalu kelaparan seharian.

Orang yang pernah berada di titik paling bawah ternyata seringkali memiliki hati yang paling dermawan. Juhaini adalah bukti nyata bahwa kamu tidak perlu menunggu jadi konglomerat untuk bisa menyelamatkan perut orang-orang kecil.

Sumber : Akun Facebook RAKON TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *