Ikan Papuyu ,Ikan Sultan Di Kalimantan Yang Harganya Setara Dengan Daging Sapi.

Metronewsindonesia.com 16/03/2026 Ikan papuyu merupakan salah satu ikan air tawar yang sangat terkenal di Kalimantan. Dalam dunia ilmiah, ikan ini dikenal dengan nama Anabas testudineus, sementara masyarakat lokal lebih akrab menyebutnya papuyu. Keistimewaan ikan ini bukan hanya pada rasanya yang gurih, tetapi juga pada harganya yang cukup tinggi hingga membuatnya dijuluki sebagai “ikan sultan” oleh sebagian masyarakat.

Di berbagai pasar tradisional di Kalimantan, harga ikan papuyu bisa mencapai kisaran Rp30.000 hingga Rp150.000 per kilogram, bahkan kadang lebih mahal tergantung ukuran dan musim. Harga tersebut membuatnya setara bahkan kadang melampaui harga daging sapi di beberapa daerah. Karena itu, ikan papuyu sering dianggap sebagai hidangan istimewa yang biasanya disajikan pada acara keluarga, perayaan, atau jamuan penting.

Ikan papuyu dikenal sebagai ikan yang sangat tangguh. Habitat aslinya adalah rawa, sungai kecil, hingga persawahan yang banyak ditemukan di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Salah satu keunikan ikan ini adalah kemampuannya bertahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah. Bahkan, papuyu mampu bertahan di luar air untuk waktu tertentu berkat organ pernapasan tambahan yang dimilikinya.

Kemampuan tersebut membuat ikan papuyu sering terlihat “berjalan” di daratan lembap saat mencari perairan baru. Karena itulah dalam bahasa Inggris ikan ini sering disebut climbing perch atau ikan pemanjat.

Di Kalimantan Selatan, ikan papuyu menjadi bahan utama berbagai hidangan tradisional khas masyarakat Banjar. Salah satu yang paling terkenal adalah papuyu goreng garing yang disajikan dengan sambal dan lalapan. Tekstur dagingnya yang padat serta rasa gurih alami membuat ikan ini sangat digemari.
Selain digoreng, papuyu juga sering dimasak dalam hidangan berkuah seperti pindang atau masakan santan khas daerah rawa. Rasanya yang khas dianggap berbeda dibanding ikan air tawar lainnya, sehingga banyak orang rela membayar mahal untuk menikmatinya.

Meski populer, keberadaan ikan papuyu di alam mulai berkurang di beberapa wilayah. Perubahan habitat rawa, pencemaran air, serta penangkapan berlebihan membuat populasi ikan ini tidak sebanyak dulu. Akibatnya, pasokan di pasar sering terbatas dan turut memicu harga yang tinggi.

Beberapa pembudidaya kini mulai mencoba membudidayakan ikan papuyu untuk menjaga ketersediaannya sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, proses budidayanya masih tergolong menantang karena ikan ini memiliki sifat dan kebutuhan lingkungan yang cukup spesifik.

Bagi masyarakat Kalimantan, papuyu bukan sekadar ikan konsumsi. Ia sudah menjadi bagian dari budaya kuliner lokal dan simbol kekayaan alam rawa yang khas. Tak heran jika ikan kecil ini mendapat julukan ikan sultan, karena meski hidup di rawa, nilainya bisa setara dengan daging sapi di meja makan.

Jika kelestariannya tidak dijaga, bukan tidak mungkin suatu hari ikan papuyu justru menjadi semakin langka dan semakin mahal. Karena itu, upaya konservasi habitat rawa dan pengembangan budidaya menjadi langkah penting agar ikan khas Kalimantan ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Source Referensi: Akun Facebook ilmu Pengetahuan Umum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *